Ada catatan kecil yang mungkin perlu digaris bawahi tentang perjuangan pemuda-mahasiswa Indonesia di era pra-kemerdekaan. Saat itu pelopor pergerakan adalah mereka yang mengenyam pendidikan di luar negeri atau paling tidak mereka belajar dari guru-guru mereka yan berasal dari luar negeri. Hal ini tergambar dengan jelas dari perkataan Dr. Roeslan Abdulgani dalam sebuah tulisannya yang mengatakan bahwa mereka mendapatkan inspirasi historis dari sejarah pergerakan mahasiswa di luar negeri dari membaca buku-buku dan pelajaran yang mereka dapatkan dari guru/dosen mereka. Akhirnya mereka yang pulang dari luar negeri atau mereka tinggal di Indonesia tetapi belajar pada guru-guru mereka yang Belanda mempunyai inspirasi yang sama untuk membentuk suatu wadah gerakan untuk memperoleh kemerdekaan. Hal ini tentu saja ibarat senjata makan tuan bagi penjajah Belanda saat itu.
Hal yang hampir serupa juga terjadi ketika pemerintah pendudukan Jepang memberikan pelatihan militer bagi pemuda Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan tentara PETA (Pembela Tanah Air), namun justru setelah mendapatkan pelatihan militer itu mereka melakukan perlawanan terhadap pemerintah pendudukan. Begitu berartinya perlawanan kaum muda yang dididik oleh Jepang ini, sehingga mampu “menyumbangkan” pahlawannya seperti Supriyadi, yang ditulis abadi dalam khasanah sejarah kontemporer negara Indonesia.
Dalam perjalanan sejarah kemerdekaan suatu bangsa yang ada di dunia ini peristiwa semacam di atas adalah sangat lumrah terjadi.
Begitu juga yang terjadi dalam sejarah kontemporer di Jepang, meski dalam konteks berbeda, peristiwa yang mirip dengan kejadian di era pra-kemerdekaan Indonesia pernah terjadi di sana dan bahkan lebih fenomenal lagi.
Jika kita melakukan kilas balik sejenak, maka kita mendapatkan bahwa fakta bahwa sebelum era perang dunia nama Jepang tidak diperhitungkan dalam percaturan dunia. Tetapi setelah kebijakan pemerintah Jepang saat itu yang melakukan perombakan besar-besaran dalam bidang pemerintahan yaitu dari kebijakan politik tertutup menjadi terbuka dan mengirimkan pemudanya belajar ke negara-negara yang lebih maju saat itu. Dan setelah para pemuda tadi kembali ke tenah airnya dan melakukan transfer ilmu yang diperolehnya di luar negeri maka dengan waktu yang singkat nama Jepang sudah diperhitungkan sebagai negara adi daya militer yang sangat di segani oleh negara-negara sekutu saat itu.
Meskipun kejayaan Jepang dalam bidang militer tidak berlangsung lama dan harus bernasib tragis ketika pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki, Jepang yang secara militer diluci oleh sekutu dan tidak “diberikan hak sama sekali” untuk membangun kekuatan militer dan negaranya hancur porak poranda akibat Perang Dunia II, tetapi Jepang bisa bangkit kembali dari keterpurukannya dan mampu melakukan transformasi diri sehingga sekali lagi Jepang mampu muncul dalam percaturan dunia dan kembali diperhitungkan setelah negara tersebut berhasil nenunjukkan dirinya sebagai negara yang mempunyai keunggulan daya saing dalam bidang Ekonomi/Industri dan teknologi.
***
Pernah diikutkan lomba 50 PPI Jepang
Selengkapnya download dibawah:
“SAATNYA ALIH TEKNOLOGI BERPIKIR”
Agustus 15, 2007 oleh hmcahyo












