(unOfficial Answer of Kang Abik)
Itulah pertanyaan yang sering ditanyakan wartawan kepada Kang Abik saat berkunjung ke Malang dan Pasuruan (23-24/02/08) yang lalu. Tentu hal ini sedikit mengherankan karena film tersebut baru resmi ditanyangkan serentak di seluruh Indonesia tanggal 28/02/08.. tapi memang dia juga memaklumi.. apa sih yang nggak mungkin di indonesia.. apalagi soal bajak membajak?
Alhamdulillah saya dapat kesempatan menemaninya baik ketika di Pasuruan dan Malang – dan bahkan selalu satu mobil dengan beliau.. sebenarnya banyak sekali yang pengin saya tanyakan tapi saya nggak tega soalnya dia kelihatan agak nggak fit, soalnya baru datang dua minggu dari mesir dan dia menyempatkan diri ke perbatasan mesir dan palestine untuk melihat kondisi kaum muslim disana.. karena musim dingin.. kang abik sampai muntah-muntah.. makanya pas ke malang tidak begitu fit.. nah disela-sela perjalanan itulah saya tanyakan beberapa pertanyaan yang rame jadi diskusi di blog (internet) .. misalnya tulisan di Blognya Mas Hasan yang berjudul: Kejanggalan Film Ayat-ayat cinta.
Sebelum menjawab pertanyaan itu dia bercerita kurang lebih demikian:
“Ketika naskah Sajadah Cinta (waduh gitu ya judulnya.. agak lupa-2 seh) dijadikan sinetron dan saya mengadakan jumpa pres di Jakarta.. wartawan *pecah* menjadi dua, wartawan dari media sekuler mengatakan.. ini film apa.. kok orang bersentuhan aja nggak boleh, ini filmnya malaikat, tidak membumi… sedangkan wartawan dari media Islam bilang: ini film apa nggak islami sama sekali.. harusnya.. begini-begeni…”
Nah.. repot kan kang abik menjawabnya.. begitu juga dengan film AAC.. sebenarnya banyak sekali yang kang abik kurang sreg dengan film itu.. tetapi setelah perdebatan yang panjang.. bahkan kang abik sampai bilang mending AAC nggak dijadikan film aja.. terpaksa hasilnya ya seperti yang rekan-rekan tonton bocorannya itu.. beberapa hal yang sempat kang abik tentang waktu itu adalah..:
1. Maunya film tersebut dibuat model-model sinetron sabun yang ada.. yang khas bollywood.. tapi akhirnya dicapai kompromi
2. Selanjutnya.. adegan tokoh Maria masuk islam hendak dihilangkan.. tapi kang abik ngotot hal itu harus ada..
3. Tokoh Maria maunya nggak dibuat mati.. dibiarkan hidup agar seru karena Fahri akan beristri dua.. dst..
4. Maunya kang abik pemeran fahri akan *dites* dulu selama 3 bulan agar penghayatannya terhadap fahri bagus.. bacaan alqurannya bagus dan seterusnya
5. Maunya kang abik si zaskia mecca dijadikan nurul… karena menurutnya lebih pas.. tapi kenyataannya jadi noura..
6. hilangnya ayah dan adik maria.. karena keterbatasan waktu..
7. selainnya saya.. lupa he..he… (habis nggak sempat ngrekam dan perjalannya malam hari pas mau pulang ke malang jadi baik saya dan kang abik sama-sama ngantuk ..
)
kang abik bilang.. berdasarkan apa yang dia baca bahwa film tersebut menghabiskan dana 10 M.. oleh karenanya kalo ada yang pengin buat film persis kayak novelnya ya monggo sediakan uang sebesar itu..
dia juga bilang kalo masyarakat sudah cerdas dan kritis (terutama mereka yang udah baca novelnya) sehingga bisa membandingkan dan memberikan masukan.. kepada produser..
selain itu seperti yang diungkap diatas adalah.. masyarakat kita memang susah.. ketika hendak memberikan tontonan alternatif.. maka ada dua kubu yang sama-sama eskstrim dalam melihat fenomena tersebut..
selain itu.. biarlah masyarakat menilai.. dan beliau juga bersyukur mas hanung bramantyo selaku produser yang menggarap film-film yang genrenya jauh dari AAC mau menggarap itu meski dengan barbagai kekeurangannya..
baidewai.. bagi saya yang paling asyik adalah menemani kang abik dan mendengarkan tausiah, memoderatorinya pas talkshow dan yang juga nggak didapetin di buku-buku adalah cerita dibalik pembuatan AAC itu sendiri.. bagaimana penghayatannya terhadap setiap tokoh, bagaimana dia konsultasi dahulu kepada uminya tentang poligami… dan seterusnya… mudah-mudahan saya bisa menuliskan di blog ini lain waktu.. InshaAllah … saat ini saya capek sekali – mana badan sakit semua dan perut tencrem mual-mual masuk angin (eh apa hubungannya dengan judul di atas?)














[...] sebagai pembaca setia Harry Potter terus terang kecewa dengan filmnya. Karena banyak kesan yang berbeda dengan di novel. Sama seperti kasus film dan novel Ayat Ayat Cinta. Pastilah akan ada pro dan kontranya. Kita boleh [...]
Huaaaaaa……!!!!!!!!! kenapa musti beda
MAS…!!! Doain Aku ya…..
Aku emang blom punya duit banyak….
Tapi Insya Allah kalo diberikan rejeki cukup
aku buat Film A2C Persis kaya Novelnya…
Subhhanallah…..
saya setuju banget sm firman..
film sm novel pasti berbeda.
pandanglah film AAC sebagai film baru bukan novel yang difilmkan
walau bagaimanapun mas hanung dan punjabi telah membuat perfilman indonesia jauh lebih baik dari film2 yang pernah ada.
kita harus tetap menghargai dan memberi selamat kpd mas hanung, keluarga besar punjabi dan tentunya kang abik.
Sangat disayangkan ada pergeseran sangat jauh dari pesan yang dimuat novel dengan yang ada di film.Hanya saja kalau alasannya seperti ini bisa dipahami juga.
yah susah juga kalo mau idealis, apalagi orang bebas berkomentar,
jadi ingat ayat al qur’an, yang melarang mengikuti kebanyakan orang .. tapi ikuti sesuai Al QUr’an wa sunnah fahim salaful umah ..
http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/
Emang sih yang namanya sastra susah untuk dituangkan ke film, entah itu pemainnya yang kurang bagus, atau cerita yang gak sesuai dengan dinovel itu sendiri.
waktu liat novelnya saya terpesona dengan kebaikan aisah tapi kok di film nya aisah seperti “menyetir” fahri bukan fahri yang “menyetir” aisa.
untuk film nya sendiri saya lebih suka dengan karakter maria “carissa putri” yang lembut dan baik.
tapi apapun itu saya salut dengan kang Abik (Habiburrahman El Shirazy)
memang sangat beda antara buku dan filmnya…lebih baik tidk baca novelmya ketimbang kita tau banyak perbedaan..]
1 ayah dan adik maria(yoseph) tidak ada….
2 fahri sakit tidak ada….
3 maria bermimpi ditolak oleh pintu2 surga tidak ada…pdhal itu moment yg sngt penting…
dll………
terlepas dari novelnya…Mas Hanung tetap yang terbaik…
setuju men.
masa 400 lembar halaman dijadiin 2 jam aja.
Yang penting pilemnya udah lebih mendidik-lah daripada pilem2 yang selama ini ada.
Jadi kalo pengen buat pilem sendiri2, ya baca aja novelnya 3 ato 4 kali, aku jamin semuanya akan jadi sutradara & produser yg jauh lebih hebat mas hanung.
ya biasa to, film dan novel berbeda…
kalau saya sih ndak heran
Hmm.. memang kalo dibandingkan dgn novelnya, film ini bakal beda dan jelek. Tontonlah film ini sebagai film baru yg tdk ada kaitannya dgn novelnya, maka film ini akan menjadi film yg bagus dibanding film Indo lainnya. Menurut gw, filmnya sdh berhasil menjadi sarana dakwah yg positive, khususnya bagi yg blm pernah baca novelnya.
Check out jg blog gw di:
http://fiere.wordpress.com
http://smiledevils.multiply.com
http://profiles.friendster.com/peermannoer
yup.. jangan salahkan hanung cs kalo film AAC tidak seperti yang kita harapkan..
salahkan saja diri kita yang belum mampu (atau bahkan belum mau??) untuk menjadi orang sekelas hanung & punjabi bersaudara untuk mewarnai dunia perfilman dengan hal-hal yang lebih islami..
@ Jazuli — mungkin lain kali saya bisa ceritakan sedikit obrolan saya dengan kang abik
@zac ya.. begitulah.. mudah-mudahan saya segera bisa menuliskan rangkuman talkshow di Pasuruan dan di Malang .. ini masih tersimpan rapih di MP4 saya
insyaAllah
Hmm..
puas deh meski g k acara itu (d SMANTI),
tp sedikti cerita uda diberitakan oleh mas.
Memang jln dakwah selalu ada lika likunya,
Alloh hanya menginginkan orang2 yg berjuang ikhlas hingga Alloh SWT meridhoinya.
Semoga kesabaran Kang Abik dan orang2 yg setia mendukungnya selalu mendapat pertolongan dari Alloh. Amin..
aku udah liat flmnya bagus banget tapi kenapa ada yang berbeda dari novelnya?
Waduh, saya belum lihat filmnya apalagi baca novelnya. Sebenarnya kemarin saya diberi novel tersebut yang terdiri dari beberapa ratus halaman itu, tapi belum sempat baca pula. Jadi nggak tahu apakah film dan novelnya sama atau tidak.
hmm hmm hmm, katanya perbedaan itu wajar lo pak apalagi yang bikin buku beda sama yang bikin movienya trus apalagi om Hanung itu belum pernah bikin movie seperti itu, but anyway saya bukan pendukung dan pembela karena bukan partai dan bukan pengadilan.. he..he..