Rame-rame bicara tentang P***NO di blog membuat saya teringat sebuah artikel yang saya tulis di majalah kampus (GEMPITA kalo nggak salah namanya) – wah masih ada nggak ya majalahnya FKIP Universitas Jember – sekitar tahun 1994.
Waktu itu saya bete banget ngelihat.. prilaku temen-temen di kampus yang suka-sukanya bikin grafiti yang terkadang porno di kampus. Nggak tanggung-tanggung yang kena sasaran grafiti bukan cuman tembok-tembok di luar kampus, tapi juga tembok dalam kelas, bangku dan bahkan yang paling seru adalah di dalam dinding kamar mandi yang pesing itu banyak sekali (por***) grafiti di sana.
Dan yang lucu kalo grafiti di tembok kelas dan bangku adalah isinya contek-contekan ujian. Kalo di dinding kamar mandi adalah… kirim-kiriman salam ke anak fakultas ato jurusan laen. Waktu itu gak ada hape sih.. jadinya ya tembok sasarannya.
Yang paling ndeso adalah saling mengejek jurusan laen…
Misalnya: Jurusan PLS nggak laku bubarkan saja!
Maka sontak anak-anak PLS membalas…
Wah jadi runyam deh..
Yang nyebelin adalah.. pernah kampus mengundang cleaning service untuk memlitur semua bangku di kampus dan mengecat tembok-tembok agar lebih cerah dan beradab selama liburan semester.
Hasilnya ajaib.. baru seminggu masuk .. bangku kuliah dan dan tembok kembali semula.
Sekarang gimana yah?
Adakah dari anda yang masih kuliah di universitas jember?
Kabari saya dong













[...] Maret 29, 2008 Durjana Hati (karya: Neozam) Posted by neozam under Puisi puisi ini balasan atas tulisan [P*RN0]-GRAFITTI [...]
sangat disayangkan ya,
fisik mahasiswa,
tapi jiwa masih anak TeKa.
Tapi itulah yang nyata
yang terlihat oleh mata
sebagai aksi para durjana
apakah ini sebagai tuntutan jiwa?
atau malah ingin menjadikan mangsa
yang sebenarnya untuk penguasa
yang zalim merajai jagat raya
yang tak sadar akan mayanya dunia
yang hanya dikasat oleh mata
sampai mereka menutup mata
(terima kasih atas kunjungannya ke blog saya yaa….. tidak ada niat untuk menyinggung siapa pun atas puisi di atas, hanya mengalir begitu saja dari ujung jari ini)
wah, ternyata grafiti bisa juga dimanfaatkan sebagai media “perang” antarsesama jurusan, ya, mas, hehehehe
sebenarnya grafiti bisa menjadi media yang tepat untuk mengekspresikan perasaan dan jiwa “pemberontakan” khas anak2 muda. sungguh disayangkan kalau pada akhirnya disalahgunakan untuk memberikan stigma bagi kelompok lain!