April 29, 2008
Ketika Ayat-Ayat Cinta Diputar di Gedung Bioskop Wijaya Kusuma Probolinggo
Posted by heri mulyo cahyo under AAC, FLP, info, menulisGhirah Berkurang, Penonton Jarang-Jarang.
Pemutaran film Ayat-Ayat Cinta (AAC) di kota-kota besar menyedot banyak penonton. Bagaimana di Probolinggo?
M. SAID HUDAINI, Probolinggo
—
Kedigdayaan AAC merajai gedung-gedung bioskop kelas wahid di kota-kota besar Indonesia tejadi hampir satu setengah bulan. Setelah itu selesai. AAC dikirim ke gedung-gedung biskop kelas dua dan tiga di daerah-daerah. Salah satunya di Probolinggo.
Sudah hampir seminggu ini film Ayat-Ayat Cinta (AAC) diputar di gedung bioskop Wijaya Kusuma Jl Basuki Rahmad Kota Probolinggo. Seperti sudah habis diperas, animo penontonnya biasa-biasa saja.
Bioskop kebanggaan warga Kota Probolinggo baru dapat jatah memutar film garapan Hanung Bramantyo itu sejak Selasa (22/4). Sayang, ketika AAC baru menyapa Probolinggo, ghirah-nya sudah turun. Tak ditemui penonton yang berjubel dan berdesak-desakan antre mendapat tiket AAC.
Seperti sudah habis diperas, tuah ACC di Probolinggo sudah berkurang. Syafiudin, petugas loket karcis bioskop Wijaya Kusuma mencatat kurang lebih 800 tiket terjual untuk film itu.
Jumlah itu adalah hasil pemutaran dua kali hari biasa (pukul 17.00 dan pukul 21.00). Dan, tiga kali pemutaran di hari Minggu (pukul 10.00, pukul 17.00 dan pukul 21.00).
Syafiudin menduga, turunnya ghirah (semangat) nonton AAC salah satunya karena lamanya waktu. “Mungkin karena jaraknya terlalu lama. Sehingga penontonnya tidak membeludak. Namun, meski tak terlalu ramai, jika dibanding film yang lain (yang saat ini tengah diputar) tetap laku,” ujarnya ketika ditemui Radar Bromo sore kemarin.
Sebenarnya untuk standar waktu tayang di bioskop Wijaya Kusuma, AAC tergolong agak cepat. “Pihak manajemen berkali-kali melobi ke Surabaya agar AAC segera diturunkan ke Probolinggo,” jelas Syafiudin.
Lobi itu berhasil. Gulungan rol film AAC segera turun ke Probolinggo. Pengumuman pemutaran pun dipasang. Gambar film dipasang di pinggir jalan. Bahkan, di pintu depan gedung bioskop tedapat pengumuman khusus berisi jadwal penayangan AAC.
Dugaan lain dalam pikiran Syaifudin, kurangnya minat warga Probolinggo terhadap AAC disebabkan rasa penasaran mereka sudah hilang. Ketika film ini sedang jadi idola, bioskop Wijaya belum menayangkannya. “Orang-orang pun lari ke Surabaya atau Malang. Atau mencari di internet atau VCD bajakan. Jadi yang sekarang nonton ini tinggal sisa-sisanya. Ada juga yang nonton ulang,” kata Syafiudin.
Apa yang dikemukakan Syafiudin bisa jadi benar. Sebagian besar penonton yang ditemui wartawan koran ini mengaku sudah pernah nonton AAC sebelumnya. “Wah saya sudah tiga kali nonton AAC. Hari ini saya menemani ibu saya yang kebetulan belum nonton,” ujar Fitri penonton asal Kraksaan.
Radith, seorang penonton asal Kota Probolinggo juga menyatakan hal yang sama. “Saya sudah pernah nonton di Surabaya. Sekarang ini hanya kepingin refreshing saja. Kebetulan istri ngajak nonton. Ya sudah, nonton lagi,” ujar Radith yang kemarin ditemani Ita istrinya.
Ratih, penonton asal Dringu Kabupaten Probolinggo juga tak kalah sering menonton AAC. “Seneng aja. Saya seneng sama semua bintangnya. Jadi ingin nonton berkali,” ujar gadis yang mengaku beberapa kali nonton AAC lewat VCD bajakan itu.
Meski tak terlalu diserbu penonton, AAC masih tetap menarik bagi sejumlah orang terutama bagi ibu-ibu. Buktinya, hampir separo penonton AAC di bioskop Wijaya Kusuma adalah ibu-ibu.
Kemarin ada sebuah pemandangan lucu terlihat ketika serombongan ibu-ibu usai membeli tiket. Tak terbiasa menonton bioskop di Wijaya Kusuma, rombongan ibu-ibu itu dengan pede naik ke lantai dua. Kontan saya petugas loket mengingatkan. “Bioskopnya ada di bawah bu, bukan di atas. Pintunya di sini,” ujar petugas sambil menunjukkan pintu masuk menuju pintu studio 1 tempat AAC ditayangkan.
Film yang melambungkan nama Fedi Nuril (Fahri), Charissa Putri (Maria) dan Rianti R Carthwright (Aisha) ini memang seperti film segala usia. Mulai ABG, orang dewasa hingga orang tua penasaran melihatnya. “Saya penasaran. Menurut ceritanya anak-anak film ini bagus. Ya sudah, kebetulan lagi ke Probolinggo saya sempatkan nonton,” ujar Sunarti yang kemarin datang bersama putrinya.
Apakah tak takut dengan pesan poligami ada dalam film itu? Sunarti menggeleng. “Tidak. Tidak takut,” ujarnya sambil pamit masuk ke studio tempatnya menonton AAC.
Soal pesan poligami dalam film AAC memang menarik untuk didiskusikan. “Menurut saya itu bukan persoalan poligami. Tapi persoalan antara cintah dan jodoh. Fahri sebenarnya sejak awal sudah jatuh cinta kepada Maria. Namun, Tuhan ternyata menjodohkannya dengan Aisha,” ujar Radith mencoba menerjemahkan film yang sudah beberapa kali ditontonnya itu. (*)
Sumber: Radar Bromo
April 30, 2008 at 10:16 am
Saya sudah lebih dari delapan tahun tinggal di Probolinggo. Dulu ada bioskop yg top, namanya Guntur 21. Apa yg kemudian terjadi? Seppii… sampe akhirnya tutup. Entah, lha wong toko2 di tengah kota aja pukul 21 kurang udah banyak yg pada tutup.