Kemaren (7/05/200 8) istri saya dapet SMS dari adiknya yang ngejar di sebuah MTs Swasta di kota Pasuruan. Isinya dia sangat stress karena di tekan kepala sekolah dan temen-temannya. Pasalnya saat jaga UAN ternyata ada kesepakatan (konon di seluruh Pasuruan) bahwa pengawas “boleh” memberikan bocaoran jawaban kepada peserta UAN.

Modusnya, para pengawas dititipi jawaban soal kemudian yang diselipkan di daftar hadir pengawas, selanjutnya bocoran jawaban itu diberikan kepada siswa (saya kurang jelas teknisnya bagaimana). Yang jelas adik ipar saya itu merasa risih dengan cara itu. Akhirnya bocoran jawaban itu diberikan temen satu ruangan. Nah temen satu ruangan ini juga nggak mau ngasih ke siswa.

Entah bagaimana, akhirnya “aksi tolak bocoran” itu diketahui oleh pihak sekolah tempat dia mengawas UAN (dia mengawas di sekolah lain, istilahnya disilang). Akibatnya siswa di sekolahnya juga nggak mendapat bocoran jawaban, bahkan untuk hari berikutnya sekolah tempat adik saya mengajar diberi jawaban yang sudah dikacaukan.

Setelah itu dia ditelepon kepala sekolah dan dewan guru pada menyidang, bahwa akibat perbuatan adik ipar saya itu bisa-bisa perolehan (kelulusan) UAN di sekolah tersebut dan sekolah tempat dia jadi pengawas bisa jeblok dan bahkan banyak yang gak lulus. Bahkan adik saya akan diancam akan diperkarakan jika banyak yang gak lulus?

Wah opo tumon? Kok Bisa jadi seperti itu?

Saya jadi ingat pas UAN tingkat SMA dua minggu yang lalu, temen saya yang jadi pengawas di Kabupaten Malang bercerita, ternyata sebelum anak-anak masuk kelas untuk melaksanakan UAN, mereka pada kumpul bukan untuk belajar tapi membicarakan jawaban dari soal yang akan diujikan!

Lha kok bisa?

Nah itu masalahnya! Kok Bisa?

Wah mau jadi apa pendidikan endonesia kalo begini.. mending gak usah UAN-UAN-an kalo Cuma jadi ajang kecurangan. Kasihan anak-anak yang memang benar-benar pintar tetapi lugu dan jujur…

Mau jadi apa endonesia kalo sejak sekolah dah diajari curang oleh gurunya?
Wajar aja kalo banyak koruptor.