Monday, 17 March 2008
Kamis malam lalu ketika nonton konser Skid Row di Tambak Sari, ingatan saya melayang ke masa 20 tahun silam. Tahun-tahun ketika saya tumbuh sebagai remaja dan anak muda yang sedang mencari identitas.

Tahun-tahun ketika hidup sangat sulit. Keluarga saya keluarga besar yang bukan produk keluarga berencana. Tetapi orang tua saya menyadari pentingnya pendidikan.
Thanks to Orde Baru. Thanks to Pak Harto. Pembanguan ekonomi menjadi panglima dan politik harus minggir.

Pendidikan memang tidak murah, tapi terjangkau. Hidup memang tidak mudah tapi bisa dijalani meski dengan rekasa.
Mungkin sebagian besar dari generasi kami tidak minum susu. Tapi tajin mungkin menjadi pilihan yang masih cukup sehat sebagai substitusi susu yang harganya tidak terjangkau.

Tentu saja ketika itu tajin diolah dari beras yang diproses dengan lesung dan alu, sehingga serat-seratnya masih bagus dan kandungan vitamin B masih sangat banyak.
Tajin sekarang mungkin malah membawa penyakit baru karena beras diolah dengan mesin selep dan diberi deterjen pemutih.

Hari-hari ini, ketika harga susu makin mahal dan terkontaminasi bakteri, membuat sebagian ibu-ibu memilih tajin untuk anaknya.
Masih untung para ibu itu punya ide kreatif seperti itu. Ada seorang ibu yang bingung sehingga menyerahkan sepasang bayi cantiknya kepada orang lain dengan imbalan setengah juta rupiah.
Ada ibu yang lebih frustrasi lagi sehingga tega membunuh dua anaknya sendiri. Ia pun merendam kedua anaknya yang masih lucu-lucunya ke bak air. Sang ibu melakukan mercy killing, membunuh karena kasih sayang.

Cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak tergantung warisan.
Di Surabaya, demi warisan, sekeluarga–bapak, emak, seorang anak–yang gelap mata tega membuat plot untuk membekap ibu mereka yang renta sampai mati.
* * *
Di Probolinggo, orang sekampung makan karak alias nasi aking. Tapi penguasa wilayah itu terlalu malu untuk mengakui. Ia menolak bantuan beberapa karung beras.
Bisa jadi persepsi kita yang salah.

Bagi sebagian kita karak adalah simbol kemiskinan. Tapi bagi sebagian yang lain karak adalah makanan sehari-hari. Karak dan hidup yang rekasa adalah habitus keseharian yang tidak lagi menjadi penderitaan.
Sama seperti kisah yang ditulis Alber Camus dalam lakon ‘Sampar’. Orang sudah terbiasa dengan penyakit. Saking biasanya, mereka menolak ketika ada perubahan. Meski itu untuk kebaikan.

Tidak perlu ada yang berubah. Dari dulu kami makan karak. Maka sebaiknya biarkanlah kami dalam habitus kami. Makan karak dan aking. Kami bahagia dengan hidup kami.
** *
Itulah potret sosial yang terekam dalam berita seminggu belakangan ini. Potret itu bukan dramatisasi kesedihan, menakut-nakuti orang dan membawa masyarakat kepada pandangan yang pesimistis.
Inilah fungsinya media. Sebagai alat demokrasi dia memberi kontrol. Dia memberi peringatan dini.
Meminjam tesis Rizal Mallarangeng, pers harus memotret realitas sosial. Bukan sekadar menyajikan realitas psikologis yang tidak riil, yang hanya ada di angan-angan.
Pers sejenis itu adalah pers yang menyajikan ‘Jurnalisme Sinetron’ yang hanya akan membawa hedonisme, materlialisme, dan menipiskan solidaritas sosial.

* * *
Dua puluh tahun silam kami tumbuh dalam suasana yang keras dan semangat memberontak. Maka musik heavy metal dan glam rock ala Skid Row dan Metallica adalah pelampiasannya.
Kami tidak berani demo karena pasti digebuk.
Tapi ketika Metallica berkonser di Pondok Indah Jakarta dengan tiket yang tidak terjangkau, generasi kami mengamuk dan memecahi kaca mobil.

Musik Metallica dan Skid Row adalah musik orang marjinal. Log Zlebhour alias Ong Gun Log tahu betul psikologi itu. Maka tiket Skid Row kali ini jual murah meriah.
Inilah konser terima kasih ala Log.
Dua puluh tahun yang lalu, Log, emaknya, dan Jinggo–kakaknya yang setia–menghitung uang recehan hasil jualan tiket konser grup metal lokal.
Sekarang dia pengusaha kaya yang bisa mendatangkan supergroup asing sekelas Skid Row.
* * *
Dalam perjalanan pulang, saya rengeng-rengeng bait ‘I Remember You’ dari Skid Row yang masih saya ingat sepotong-sepotong…
Remember yesterday
walking hand in hand
I wanna hear you say
I remember you…. *

Sumber: Surya