Alhamdulillah tlah lahir putra kami ke-3 dg shat & slmt. Rabu, 14/5/08, pk 22.18 d RSIA Melati Husada Jl. Kawi Malang. Mhn do’a smg mnjd anak sholeh.

Begitu bunyi sebuah sms yang mampir dari di hape saya beberapa saat yang lalu. Maka biasanya saya balas dengan SMS seperti yang ada pada judul tulisan ini.

Tetapi ternyata tidak semua orang suka dengan balasan SMS itu  padahal saya serius dengan jawaban SMS itu.
“Masak SMS-nya gitu seh pak?” protes salah seorang teman saya saat bertemu saya suatu ketika.
Saya biasanya cuman senyum aja.
***

Sungguh, setiap kali ada kelahiran, di sekitar saya jadi ingat sabda Rasulullah s.a.w yang menyatakan bahwa setiap bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah. Ayah dan ibunyalah yang akan membuat dia jadi orang yang beriman kepada Allah atau tidak.

Dan saya akan benar-benar bertanya kepada anda semua, bukankan tugas menjadi ayah dan ibu agar anak-anaknya menjadi anak yang sholih adalah hal yang berat, apalagi dengan kondisi lingkungan yang seperti saat ini.

Ah jadi ingat anak saya yang terkecil - yang hampir 4 tahun – saat ini suka bilang:
“… ayo BLOG (goblog) .. apa koen (kamu)… “ katanya pada abangnya, atau
“ apa koen (kamu) NDUL (gundul) … tak tonyor (tonjok) koen (kamu)…!”
“Biib… kok ngomongnya jelek gitu ya….! Kalo masih ngomong gitu tak cubit lho…!” protes istri saya.

Nah, khan?
Padahal di rumah kami nggak pernah mengeluarkan kata-kata itu. Kami tahu, itu pasti dapat dari sekolah dia.
“Itu bahasanya.. si Faisol…” kata istri saya menyebut salah seorang temen anak saya. Kebetulan istri saya seminggu sekali ngajar di sekolah si kecil. si Faisol itu biasa nemanin ayahnya jaga parkir di pasar Lawang. Dan anda pasti tahu semua bagaimana bahasa-bahasa yang digunakan orang-orang di pasar dan parkiran.

Wah, terkadang saya juga bingung bagaimana cara mengendalikan pengaruh negatif dari teman-teman anak kami. Kami ingin anak-anak kami bergaul dengan semua lapisan dan golongan, tetapi kami sadar bahwa ternyata anak dengan latar belakang orangtua tertentu ternyata juga berpengaruh terhadap cara dan bagaimana si anak bertindak.

Paling tidak hal itulah saya rasakan dari kedua anak saya yang lain. Anak saya yang pertama saya sekolahkan di SD Islam swasta yang dikelola sahabat saya. Rata-rata wali muridnya dalah pegawai dan wirausaha yang berpendidikan, dan alhamdulillah anak saya sejauh ini tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak kami inginkan, bahkan kami meski baru kelas 1 SD dia sudah jarang meminta uang saku berlebihan paling lima ratus atau seribu rupiah saja, itupun setahu kami ditabung dan dibelikan buku yang dia mau. Bahkan kalau sudah merasa kenyang dan di sekolah ada acara makan-makan (setiap hari sabtu) dia tidak minta uang saku sama sekali. Atau kalo sudah membawa bekal atau kue dari rumah juga tidak minta uang saku, terkadang ketika kami mengingatkan untuk membawa air putih untuk bekal dengan santainya dia menjawab:
“Di sekolah temen-temen baik kok, kalo untuk minum biasanya aku di kasih…”

Sedang anak kedua (umur 5 tahun), saya sekolahkan di sekolah yang di kelola teman-teman saya yang lain, yang kebetulan para aktivis. Sehingga sebagian besar siswanya juga anak-anak aktivis. Anak saya yang di sekolah ini juga berbeda, sangat aktif sekali dan kadang juga suka usil dengan saudaranya yang lain. Tetapi yang saya lihat pengaruh omongan yang jelek seperti anak saya yang ketiga tidak nampak. Bahkan terkadang saya rasanya bahasa yang digunakan terlalu baku dan terkesan lucu.

“Mbak… katanya ustadzahku .. kalo punya kue itu KITA HARUS BERBAGI..” katanya pada kakanya.. atau seperti ini
“Biib.. kamu kalo nggak mau berbagi nggak disayang Allah lho Biib..” katanya kepada adiknya..

****

Ah kok jadi ngomong ngalor ngidul…
Gimana menurut anda?
Apakah benar agar anak kita solih, kita – orang tua – harus solih duluan?