dari Harian Surya
Thursday, 05 June 2008
“Hanya sekitar 30 persen alumni SMA/SMK/MA yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu punpersentase terbesar hanya di sekolah-sekolah favorit. “
Sebentar lagi adik-adik kelas 3 SMA/SMK/MA menunggu detik-detik yang sangat penting dalam hidup mereka, pengumuman Ujian Nasional. Namun bagi saya – yang juga pernah mengalami masa-masa SMA – hal yang paling mendebarkan adalah justru ketika dinyatakan lulus. Akan kemana saya setelah ini?
Pertama, kuliah – wah ini harus dikonsultasikan dengan orangtua saya dulu. Mereka bukan termasuk orang yang kaya. Meski ada kesanggupan untuk membiayai kuliah, tetapi orangtua saya membatasi harus masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Jika swasta mereka tidak sanggup! Akhirnya saya harus belajar dengan keras untuk bisa lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya juga sadar, saya bukan termasuk pelajar yang istimewa dalam pelajaran sehingga bayang-bayang tidak lulus UMPTN terus menghantui. Akan kemana jika tidak bisa kuliah di PTN? Alhamdulillah saya diterima.Kedua, kerja – wah lulusan SMA kerja apa? Mending kalau saya lulusan STM (SMK) masih punya bekal keterampilan?
Kondisi yang saya alami itu ternyata dialami ribuan dan bahkan jutaan anak-anak SMA yang sedang menanti kelulusan! Berdasarkan hasil perjalanan saya ke sekolah-sekolah di kota-kota Jawa Timur – saya mendapati hanya sekitar 30 persen alumni SMA/SMK/MA yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itu pun persentase terbesar hanya di sekolah-sekolah favorit yang jumlahnya di setiap kota hanya bisa dihitung dengan jari.
Saya yang tidak mempunyai data yang jelas tentang mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya yakin hanya sebagian kecil yang terserap di dunia kerja, baik itu di sektor formal ataupun sektor informal – dan sebagian besarnya hanyalah jadi pengangguran yang menjadi beban keluarga, masyarakat, dan negara.
Saya tahu hal itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka, tetapi sistem pendidikan kitalah yang kurang memberikan perhatian terhadap mereka yang tidak bisa kuliah. Apalagi jika melihat biaya masuk PTN sekarang membuat ngeri sebagian besar orangtua. Bagaimana tidak, di koran ini sebuah PTN di Surabaya mematok biaya masuk di atas Rp 50 juta untuk jurusan tertentu. Miris sekali membaca berita itu. Kapan kami yang dari golongan menengah ke bawah ini bisa menikmati pendidikan berkualitas?
Tidak ada gunanya meratapi diri, toh hidup harus terus berlangsung. Saya hanya ingin menggugah seluruh alumni SMA/SMK/MA yang tidak bisa melanjutkan kuliah dengan satu kalimat saja: gak kuliah gak kiamat! Memang perlu perjuangan keras untuk membuktikan itu.
Saya punya ratusan contoh yang membuktikan bahwa orang yang hanya lulusan SMA bahkan lebih rendah dari itu jadi orang sukses dan disegani. Sebut saja Andri Wongso motivator terkenal dari Malang yang hanya lulusan SD atau pendiri Bakso Kota Cak Man dari Malang juga yang memiliki puluhan outlet di seluruh Indonesia. Seperti dalam biografinya yang bisa kita temui di gerai baksonya, dia hanya lulusan SD!
Nah, tunggu apalagi? Sekarang saatnya membuktikan dan bekerja keras, bahwa gak kuliah gak kiamat. Saya tulis sebuah serial yang bisa memandu kalian yang bisa diakses gratis di blog saya.
*****
Oleh Heri Mulyo Cahyo
Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia Malang Raya
hmcahyo @ yahoo.com
http://hmcahyo.wordpress.com










Yang penting dari semua itu adalah krja keras dan semangat pantang menyerah yg disertai dengan doa kepada Allah