Sarjana yang menjadi tukang tambal ban lebih baik daripada penggangguran . Bob Sadino
Baiklah.. mungkin kalian merasa bahwa bekerja disektor formal..seperti disebutkan di pembahasan yang terdahulu terlalu ribet atau bahkan ada yang menggapnya susah. berbagai macam alasan yang bisa dikemukakan, yang sering adalah seperti: nggak ada lowongan, pengalaman kurang, nggak punya keterampilan dan seterusnya. dan selanjutnya pilihan hanya ada dua: mengganggur berarti menyia-nyiakan waktu kalian, dan bekerja secara produktif dan menghasilkan – apapun pekerjaannya asalkan halal.
nah saat ini saya akan membahas pada pilihan yang ke dua – bekerja dan menghasilkan. tetapi sebelum itu saya ingin sekali lagi mengajak kalian kembali untuk merenungkan pertanyaan berikut:
“Apa sih yang kalian sebut bekerja?”
Apakah jawaban ini:
Bekerja adalah.. memakai pakaian yang perlente, memakai dasi, dan sepatu mengkilat, berangkat pada jam tujuh pagi pulang jam lima sore?
atau seperti ini:
Bagi saya melakukan segala sesuatu yang dapat menghasilkan uang…
Oke.. kalau jawaban kalian yang seperti yang kedua, maka silahkan membacanya
***
Suatu ketika ada salah seorang dari saudara saya – yang bekerja di sebuah pabrik – harus menerima kenyataan bahwa tempat nya bekerja sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi – alias di PHK!.
Tentu dia bingung kerena harus menghidupi seorang istri dan 3 orang anak yang masih sekolah. Ditengah kebingungannya itu, salah seorang saudara yang lain memintanya membetulkan beberapa bagian atap rumah yang bocor – tentu dengan sejumlah upah. Daripada nganggur tidak ada yang dikerjakan maka dia lakukan itu.
Tanpa disangkanya – setelah mengerjakan pembetulan ringan itu, ternyata ada tetangga lain di satu komplek perumahan tersebut yang meminta bantuannya juga. Begitu seterusnya, pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Memang di rumah lain dia tidak hanya membetulkan atap yang bocor saja, tetapi juga diminta membersihkan halaman yang penuh rumput liar, mengecat tembok rumah dan seterusnya. Dengan kegiatan yang baru ini dia tidak lagi mengaggur dan tentu saja mendapatkan upah untuk menghidupi keluarganya.
****
Saya sering menceritakan hal tersebut di atas kepada murid-murid saya dan kepada teman-teman yang kebingungan mencari kerja.
Dan saya tahu berbagai macam reaksinya. Ada yang segera mendapatkan ide. Ada yang justru mencibir dan membuat diri mereka semakin frustasi dengan statusnya sebagai pengganguran.
Dan sayapun hanya mengajukan pertanyaan sederhana kepada mereka:
“Lebih baik mana kira-kira jika dia (saudara saya di cerita di atas) diam saja dirumah (dengan segala konsekuensi tidak bisa memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya) atau dia melakukan itu meskipun dianggap pekerjaan yang rendah dan dipandang sebelah mata bagi sebagian orang?”
Saya juga tahu bahwa itu contoh yang mungkin terdengar sangat ekstrim. Dan sebagian orang akan menjawab:
“ Ya tentu saja dia mau melakukan itu, <i>wong</i> dia kepepet (terpaksa) nggak punya pekerjaan lain !”
Justru disitu permasalahan utamanya.
“KITA LEBIH SUKA MENGAMBIL TINDAKAN DAN RESIKO KETIKA KEPEPET atau TERPAKSA, tetapi kita TIDAK MAU MENGAMBIL RESIKO ketika TIDAK KEPEPET”
Kurang lebih jawaban seperti itu yang sering saya dengar dari salah sorang sahabat saya – yang juga Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Malang Raya – jika saya tanya bagaimana memulai sebuah usaha.
Dengan singkat dia menjawab:
“Bagaimana agar kita selalu merasa kepepet! (agar ada kemauan untuk mencoba suatu usaha).
Nah pembaca, sekarang saya kembalikan kepada anda.
Apa sih definisi bekerja menurut anda?
Saya tunggu komentarnya!










saya kurang setuju kalau bekerja qta anggap suatu kepepet dgn alasan supaya qta ada kemauan untuk usaha…why?qta bekerja itu harus dipenuhi dgn rasa tggjwb,tulus dan ikhlash,apapun pekerjaannya…saya yakin smua orang punya ide untuk melakukan suatu usaha. Tp kbnyakan dr mereka tkt krn tdk adanya kmpuan untuk mlkukan idenya,tgl mrk sndri bgmn caranya agar mrk bs mampu melaksanakan idenya.
mgkn dgn optimis,percaya diri,perhitungan yang matang,finansial,sarana dan prasarana.
mereka dapat menjalankan suatu ide-ide cemerlang dari dirinya…..
Salam
akh pekerjaan apapun kalau halal ga ada kata hina atau rendah.. kenapa musti malu.. ya
Kalo yang ini gaya “guru” banget. Jadi inget waktu wawancara di muamalat aku dituduh “guru ya mbak”.
Mungkin ngeliat penampilan dan cara ngomong, ha..ha..ha… kebiasaan menjelaskan dan mengarahkan memang gaya “guru banget”.
Tapi sippp kok…
=========
Ah… emang saya kelihatan tampang guru