Friday, 06 June 2008
SURABAYA -Kerajinan perahu dalam botol pernah jaya di awal tahun 2000. Para perajin meneguk puluhan juta rupiah bahkan hingga ratusan juta per bulan. Order dari luar negeri mengalir deras. Sayang lima tahun kemudian banyak yang gulung tikar.
Awal 2000 Nur Hasan membuka usaha kerajinan miniatur perahu. Ia mengaku tak paham tentang pemasaran. Sebagai seorang perajin, ia cuma tahu bagaimana membuat perahu dan mendesain ulang dari ukuran raksasa ke miniatur. Selama setahun, pemilik Sanggar Seni Perahu Layar Bahrain di kawasan Nginden Kota I/19 ini kebingungan memasarkan produk kerajinan yang jumlahnya puluhan dan menumpuk di rumahnya.
Waktu itu bapak dua anak ini cuma berniat menerima kelebihan order temannya sesama perajin perahu di Surabaya dan Mojokerto. “Saya hanya membantu,” ucap pria kelahiran Kediri 25 November 1969 ini, Kamis (5/6). Namun setelah beberapa tahun orderan melambung terutama dari Bali dan Jawa Tengah, Nur Hasan pun membuka sanggar sendiri.
Harga perahu botol dan perahu miniatur buatannya bervariasi sesuai ukuran dan tingkat kerumitan. Mulai Rp 25.000 hingga Rp 2,5 juta. Perahu dengan ukuran paling besar tipe A biasanya perahu model Bonti, San Juan, Endevour, Whaler, Batavia, Santa Maria. Panjangnya sekitar 150-175 cm tingginya120-140 cm.
Ukuran lebih kecil lagi dengan panjang 120-130 cm model kapal James Cook, Esmeralda, Cutty Shark, Eagle, Crusentren. Harga tipe B ini sekitar Rp 2 juta-an. Untuk tipe C dengan panjang 100 cm dan tinggi 75 cm harganya cuma Rp 1,25 juta. Model kapal yang lazim KRI Dewa Ruci dan Pinisi Nusantara.
“Perahu atau kapal botol ukurannya kecil-kecil. Panjang botol terbesar cuma 30 cm,” katanya. Harganya sekitar Rp 25.000-100.000. Semua bahan dasar kerajinan perahu dibelinya di Surabaya. “Kalau botol-botolnya beli rombengan di kawasan Semut. Harga per botol Rp 2.500-4.000. Untuk layarnya berupa campuran melamin, belinya tiap 10 meter di daerah Baliwerti. Sedangkan kayu kiloan yang kecil-kecil dibeli di daerah Demak. Untuk gotri dan pernak-perniknya dibeli di Pasar Kramat Gantung” katanya.
Sekali borong bisa 50 kg kayu, harga per kilonya Rp 4.500. “Pascakenaikan harga BBM kerajinan seperti ini menjadi kian terpuruk. Orderan berkurang drastis. Jaman serba susah, orang semakin berpikir dua kali kalau membeli kerajinan. Hanya mereka yang punya duit sisa saja bersedia membeli,” lanjutnya.
Dua tahun terakhir omset Nur Hasan rata-rata tak lebih dari Rp 30 juta per bulan. Tahun-tahun sebelumnya bisa tembus Rp 70 jutaan. “Kalau orderan banyak, saya ambil banyak pegawai. Kalau dikerjakan sendiri nggak akan nutut. Pekerjaan utama saya di bidang periklanan. Ketika usaha ini terpuruk saya fokus lagi ke periklanan dan sesekali nyambi usaha sablon,” sambungnya.
Pangsa pasar terbesar kerajinan perahu buatannya saat ini adalah Jepara. “Dari Jepara perahu-perahu saya diekspor ke manca negara dengan harga tinggi. Bali sudah stop mengambil barangnya di saya karena kondisi perekonomian di sana juga tidak sebaik lima tahun silam,” katanya.
Nur Hasan mengaku selama ini menggunakan modal dari kocek sendiri untuk mengembangkan usahanya. “Pemerintah tidak bernah memberi bantuan modal langsung. Tapi dua kali membantu soal pemasaran. Saya pernah diajak dua kali pameran oleh pemkot,” ujarnya. /DWI PRAMESTI
sumber surya












