Hari Sabtu, 16/08/2008 – setelah dari memberi pelatihan penulisan di Pasuruan saya diminta memberikan materi kepada peserta MUQIM (semacam mentoring) dari adik adik ITS angkatan 2007 di Pondok Pesantren Darussalam Lawang.
Materi yang saya sampaikan adalah Urgensi Pendidikan Islam Sepanjang Hayat. Alhamdulillah dari sekitar 70 peserta yang hadir menyimak dengan baik meskipun sudah dua hari mereka di kamp dalam pesantren yang terletak di lokasi yang lumayan dingin untuk ukuran ornag-orang Surabaya.
Pada saat sesi tanya jawab, ada salah seorang yang bertanya yang kurang lebih intinya menanyakan bagaimana menjaga konsistensi idealisme kita setiap saat.
Mendengar pertanyaan itu saya jadi teringat nasihat yang pernah saya dengar dari salah seorang mentor ketika saya kuliah dulu – meski sudah hampir 15 tahun berlalu, namun nasihat itu masih sangat jelas terekam di benak saya. Mudah-mudahan yang memberi nasihat tersebut selalu mendapatkan pentunjuk dan kasih sayang Allah – saya lupa persisnya, kalo nggak salah dr. Agus yang pernah jadi ketua Bulan Sabit Merah Indonesi (BSMI) Surabaya.
Nasihat itulah yang saya sampaikan, kira-kira begini:
“Kalau anda MASIH KULIAH maka anda BELUM HIDUP, ketika ANDA LULUS dan BEKERJA itu BARU SETENGAH HIDUP, nah KETIKA SUDAH BEKERJA< MENIKAH DAN PUNYA ANAK baru anda BENAR-BENAR HIDUP”
saya tahu dan saya katakan pada para peserta:
”Anda mungkin belum bisa memahami nasihat ini sekarang, tetapi nanti ketika sudah lulus, bekerja dan menikah serta punya anak anda akan tahu nasihat itu. Kenapa karena saya sama persis dengan anda, saya dulu pas mendapatkan nasihat itu saya juga nggak mudeng, baru sekarang saya benar-benar mudeng.”
ya.. ketika pas kuliah dulu betapa mudah kita – terutama yang jadi aktivis dan suka turun ke jalan untuk demo – mengatakan idealisme kita. Bahkan resiko yang beratpun kita sanggup menanggung. Saya ingat betapa ketika jaman represif suharto – sekitar tahun 1992-1993 – saya dan kawan-kawan demo tentans SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah – sebuah Judi LEGAL yang diinisiasi oleh Pemerintah dan sebagian Ulama). Begitu pulang demo ada temen yang harus menghilang hampir seminggu dari kos-kosan karena dia dikejar-kejar intel dari kodim. Dan betapa waktu itu Almarhum Oom yang ada di Mahmil juga mewanti-wanti saya agar jangan ikut-ikutan demo. Ya…. rasanya heroik sekali..ketika kita demo saat itu…
tetapi ketika setelah bekerja … betapa kita lihat keganjilan dan bahkan kebejatan-kebejatan yang terjadi di lingkungan kerja kita dan sekitar – kita merasa lidah kita kelu untuk sekedar mengingatkan orang lain. Kalaupun kita kita berani berkonfrontasi dengan pimpinan dan orang lain – itupun dengan resiko dikeluarkan atau mengeluarkan diri dari lingkungan itu… dan sekarang jika kita menemui hal-hal yang bertentangan dengan idealisme kita – yang sering kita lakukan adalah – biarlah yang penting saya tidak melakukan itu..
Ah… astaghfirullah, terkadang saya merasa betapa beratnya mempertahankan idealisme kita seperti dulu – banyak hal yang akhirnya jadi pertimbangan. Kata teman saya, dulu kamu masih membawa satu badan saja ketika berani konfrontasi tetapi sekarang ada banyak yang harus kamu pertimbangkan.
Ya… itu sekedar renungan… saya.
Saya percaya ada orang-orang yang tetep kukuh dan tegar mempertahankan idealismenya.. apapun kondisinya. Dan saya salut dengan ornag-orang yang seperti itu… karena mereka hanyalah satu diantara seribu orang.
Bagiamana dengan anda pembaca?
*****
Artikel ini ditulis dalam rangka Kampanye
INDONESIANS’ BEAUTIFUL SHARING NETWORK
Sebuah ajakan berbagi sedikit kebaikan melalui blog kita
Anda tertarik bergabung?
Pasang Bannernya ![]()
(kopi paste kode di bawah)
<a href="http://hmcahyo.wordpress.com/" title="Indonesians’ Beautiful Sharing Network"><img src="http://hmcahyo.files.wordpress.com/2008/07/berbagi01.jpg" alt="Indonesians’ Beautiful Sharing Network" style="border:0 none;"></a>














aku selalu bilang kepada diriku setiap saat, apa pun perasaan yang aku alami, bahwa memang, hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. aku memang tidak kuliah, tapi kehidupan adalah universitas tempat aku belajar (dan kematian adalah wisuda satu-satunya jalan untuk lulus), aku belum menikah. hmmmmm…. mungkin aku akan mengawinkan idealisme dengan realisme, meski mungkin juga aku akan berakhir dengan komposisi dialektik yang berkepanjangan. tapi itulah hidup, terlalu berharga untuk disia-siakan!
Yihiiiee…. mejenk di depan para mahasiswi nih yee… (nggak konten banget sih), tapi tetap aja… banyak kecengan donk……
Soal idealisme… kan dulu waktu tes di UIN malang pernah diwawancarain sama dekannya, gw jawab jujur kok malah nggak diterima ya sampe eyel-eyelan sama Bapak ini… jadi nih orang suka diboongi kali ya.. ha..ha..ha..
Welcome to the jungle …
wah diriku belum hidup
iya semoga ketika bekerja kelak, diriku gak (naudzubillah) meludah sendiri.
dan sekarang jika kita menemui hal-hal yang bertentangan dengan idealisme kita – yang sering kita lakukan adalah – biarlah yang penting saya tidak melakukan itu..
..hehe.. kalo dipikir2, mungkin ada hubungannya dengan perjalanan dari IDEALISME menuju REALISME ..
@My -> makasih diantar
karena saya masih kuliah mgkin saya juga sama seperti yang bertanya pada anda dan apa yang anda rasakan dlu….
saya gak nyasar kesini kq…
saya cma nganter pulang yang punya blog..
mungkin masih ada tawar menawar dalam idealisme yg mengakibatkan pergeseran nilainya. tapi tidak untuk moralisme dan akhlak.. ^_^