Hari Kamis, 14/05/2009 saya menerima email dari Ibu Sarastina – salah satu alumni Writing School @ BBIB Singosari.
From: sarastina 2000
Date: Thursday, May 14, 2009, 9:53 AM
Assalamualaikum pak,Bersama ini saya kirimkan titipan tulisan teman2 tentang Manohara ………….tadinya kami pingin tulisan berantai tapi masing2 terlalu banyak kalimat hingga menjadi paragraf2 ………. jadinya tulisan sendiri2, moga2 bapak ndak bingung yaa !
Makasih and salam dari temen2
Wassalamualaikum wr. wb.
Mau tahu bagaimana isi tulisan-tulisan mereka?
Langsung saja simak di bawah ini:
MANOHARA OH MANOHARA
Lilik Kusmawati
Muda, cantik, pintar dan berlimpah harta benda dipersunting seorang pangeran lagi. Siapa sich yang ga’ mau…?
Mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa kehidupan seperti itu merupakan kehidupan yang maha sempurna. Manohara Odelia Pinot, gadis yang beruntung mendapatkan kehidupan seperti itu. Ini bukanlah dongeng atau khayalan semata, ini kenyataan!
Masyarakat khususnya kaum hawa mungkin mempunyai impian seperti itu,khayalan dari kecil yang sering mendengar dongeng sebelum tidur. Bagaikan seorang putri menantikan pangeran berkuda putih menjemputnya. Ternyata dalam kehidupan nyata kita menemui kejadian itu. Sungguh bahagianya kehidupan seperti itu…? Segala sesuatunya tersedia, harta dan kuasa!
Apa yang kurang dari semua itu? Tidak ada..!
Tapi apakah benar kehidupan Manohara sesempurna itu…?
Menelisik dari berita-berita di media massa,mungkin bisa membuka mata kita lebar-lebar.Banyak pertanyaan yang ada di benak kita.
Bukankah Manohara sudah mendapatkan kehidupan yang lebih di banding kehidupan gadis lainnya.?
Benarkah terjadi kekerasan dalam rumah tangganya?
Semuanya masih simpang siur dan tanda tanya besar buat kita.Kalau pun itu benar, sungguh di luar dugaan….!
Pantaskah seorang Pangeran yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya melakukan hal yang tidak sepantasnya, apalagi terhadap orang yang paling dikasihi. Sebagai sesama muslim dan senegara pula, patutlah kita merasa prihatin atas kejadian ini dan menjadikan ini sebuah pelajaran yang berharga bagi kita semua.
Mungkin yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa harta dan tahta tidak menjamin kebahagiaan suatu kaum. Tapi keikhlasan, ketulusan dan kejujuran merupakan hal yang paling mutlak dalam menjalin suatu hubungan.
******
Arif Mawardi
Sesuatu yang unik telah terjadi pada golongan tua di khalayak, golongan tua sebagai seseorang yang berlabel ”orang yang sudah banyak menelan asam garam”.
Mengklaim kepada yang muda, harus senantiasa menurut dan menghormati golongan tua, dimanapun jika itu masih masuk dalam wilayah NKRI. Karena saya hidup di Jawa, maka adat di Jawa pun kental dengan hal seperti itu, termasuk di sekeliling kehidupan pribadi saya, bahasa pun memiliki efek besar jika kita belum bisa memposisikan diri kita sebagai apa?
Tidak hanya di Jawa, di Manado pun mungkin tidak banyak berbeda dengan adat di Jawa, Nyonya Fajar, ibunda dari Manohara merupakan kasus kongkrit dari perbedaan pandangan dari golongan tua dan golongan muda, meskipun hal itu merupakan kerikil tajam yang setiap saat bisa menimpa pasangan rumah tangga.
Sebelum menerima pinangan dari Tengku Pangeran Kerajaan Kelantan, negara bagian Malaysia ibunda Manohara haruslah mempelajari kondisi dan resikonya mempunyai menantu orang asing, dalam hal adat istiadat orang Manado dan asing dalam setiap pemikiran. Tentang tata hidup yang berkembang dalam diri keluarganya.
Dalam belajar pun kita masih tertatih-tatih memahami karekter dan sekeliling, hal itu tidaklah muda, tetapi haruslah diberi wacana, supaya Sang Calon Menantu bisa memahami sedikit demi sedikit tentang kehendak serta keinginan Sang Mertua. Menantu mana sih nggak ingin membahagiakan kedua mertuanya yang mungkin sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri?
Mengenal orang Malaysia sebenarnya tidak sulit, sebagai orang yang serumpun dengan Indonesia, Malaysia mempunyai beberapa bahkan banyak kesamaan hidup dan cara pandang kehidupan seperti orang Indonesia kebanyakan. Tetapi itu bisa ditepis oleh keragaman budaya dan adat istiadat, tetapi ingat di atas kebudayaan kita disatukan oleh hukum-hukum agama Islam yang sudah paten dan terbukti keampuhannya.
Sang Pangeran harus sedikit membuka diri terhadap perbedaan yang mungkin hal ini sangatlah langka bagi kehidupan ningrat yang setiap saat terlayani kebutuhannya. Contohkan pada diri kita seandainya kita menjadi seorang yang terlayani, protes sana, protes sini, klaim sana serta klaim sini.
Kalau toh terjadi kesalah pahaman, itu merupakan hal yang wajar, satu sisi sang menantu masih ”asing” dengan mertua, sedangkan sang mertua tidak mengetahui ”keterasingan” sang menantu.
Titik netral berada di sang artis ”Manohara Odelia Pinot”, mampukah dia membawa ke alam netral yang bisa dipahami oleh sang ibunda dan sang suami tercinta. Sebagai anak ingatlah ”Surga anak di bawah kaki ibunda”.
Tetaplah sebagai istri yang ingat juga ”Surga istri berada di kaki suami”.
Alangkah bahagianya bisa meraih kedua surga yang telah dijanjikan kepada yang diatas. Untuk meraih surga pun membutuhkan perjuangan yang besar, dan yang pasti permasalahan duniawi bisa terselesaikan serta ada jalan keluar, tetapi tetap mengedepankan ikhtiar dan tawakal.
Cantik rupawan, bersuami sang pangeran, merupakan impian semua wanita di dunia ini, hidup dengan penuh bergelimangan harta, berkeliling tahta, dan semoga tetap berada di jalan yang istiqomah. Hidup akan datar maka hidup akan terasa hambar, maknai hidup













yang sabar ya????
satu hal yang harus diingat adalah bahwa, pernikahan merupakan lembaga yang telah menjadikan anak (perempuan) mengalihkan ketaatan, dari sang ibu kepada suaminya.
selama perempuan masih resmi menjadi istri dari suaminya, maka ia harus tetap mematuhi suami sebagai imam. tapi bukan berarti, istri tidak boleh “mengundurkan diri”, kalau ia merasa tidak nyaman mengarungi bahtera bersama nakhoda yang ternyata pola kepemimipinan tidak sesuai dengan yang dihrapkannya sebelum menikah dulu.
istri punya hak untuk kembali kepada ibunya (minta cerai).
hal itu, adalah legal dan halal.
tapi ketika memang, sang anak merasa betah dengan suaminya, maka sang ibu pun harus menerima kenyataan bahwa sang anak sekarang telah menjadi “milik” orang.
berat memang untuk menerima kenyataan ini. bagaimana mungkin seorang ibu yang telah mengandung, mengasuh dan membesarkannya sekian lama, sekarang harus ikut orang.
tapi itulah konsekwensi yang harus diterima dan dijalaninya, setelah dulu ia menyetujui sang anak menikah dengan lelaki yang menjadi suaminya sekarang.
makanya untuk ibu-ibu yang yang mempunya anak gadis yang telah siap nikah, harus betul-betul selektif menyetujui proposal pria pilihan yang diajukan anaknya untuk disetujui.
tapi walaupun begitu, adalah suatu perbuatan tercela, kalau lantas seorang lelaki sebagai suami, berupaya memisahkan hubungan istrinya dengan sang ibu.
itu adalah dosa besar, yang tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang sudah kehilangan akal sehat. baik karena kebodohannya, atau karena silau oleh harta dan kedudukan yang didapatinya saat ini.
wallahu a’lam….
manohara,
benarkah yang terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga ?
adakah buktinya ?
semoga kita tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain………….