.. Bi, aku ingin nabung di surga [habib]
.. Mi, apa anak yang ngasih uang ke orang tua itu masuk surga? [dayyan]
***
Beberapa hari sebelum anak-anak khitan.
”Bi… aku dapat uang sejuta dibuat apa?”
”Ya… disimpan aja dulu, bisa buat betulin atap yang bocor itu atau untuk anak-anak masuk sekolah nanti?”
”Umi… uangnya dibelikan rumah saja..!” timpal dayyan yang mendengar pembicaraan kami.
”Iya… doakan ya Bang?” jawab istri
***
Ada ketukan beberapa kali di pintu kamar ketika istri sedang istirahat?
“Umi… aku boleh masuk?” suara Dayyan dibalik pintu.
“Ya.. pelan-pelan bukanya ya Bang?”
“Umi.. aku ingin bicara boleh?” tanya Dayyan begitu masuk kamar.
“Ada apa Bang?”
“Umi berapa sih harga rumah itu?”
“Ya.. macam-macam, ada yang 80 juta, 100 juta, 200 juta atau lebih?”
“Kalau beli rumah uang Umi yang kemarin kurang berapa?”
“He-eh.. Wah.. doakan aja deh, pokoknya mudah-mudahan aja kita bisa beli rumah ya Bang?”
“Begini, Mi, Aku ingin jualan kue… terus uangnya tak tabung nanti kalo sudah banyak tak kasihkan Umi buat beli rumah?”
“Hmmm… Makasih ya Bang, Umi doain deh rezekinya Bang Dayyan banyak biar bisa beli rumah?”
***
Beberapa saat setelah khitan
“Mi, Aku dikasih uang sama sama Eyang Ti sama Yuyut?” seru Habib sambil melambai-lambaikan beberapa lembar uang lima ribuan. Selanjutnya dia memberikan beberapa lembar lagi pada Dayyan.
“Ini kamu juga , Bang…!”
“Asyiik uangku banyak..… aku mau beli es krimmm…. !” seru Habib berjingkrak-jingkrak.
“Ditabung Bib… biar banyak…. !” kata Dayyan yang masih di atas kasur dan belum berani bergerak ke sana ke mari seperti Habib.
Sebenarnya kami sudah berencana khitannya anak-anak tidak perlu dipublikasikan selain biar kami gak repot menyiapkan makanan khusus, anak-anak memang belum waktunya libur, begitu juga dengan kami. Tetapi karena si Habib sejak hari pertama sudah berlarian keluar rumah bahkan beli kue ke warung tetangga juga, lambat laun banyak tetangga yang tahu.
“Lho kenapa apa kamu Bib, kok pake sarung, tumben…. ?” tanya Bu Yayuk tetangga depan rumah
“Aku sunat…. !” Jawab Habib cuek
“Kapan? Kok nggak tahu? Masak sih kamu berani sunat?”
“Sudah, tadi sunatnya.. Sama Bang Dayyan. Lhoooo lihat…!” kata Habib sambil membuka sarungnya
“Lho, iya… sini-sini tak kasih sangu… Nih sama bang Dayyan …!”
“Horee,,, Bang .. Uangnya Banyakkkkk..… Ini tadi di kasih Bu Yayuk!” teriak Habib sambil masuk rumah
Satu persatu tetangga kanan kiri rumah pada tahu, dan bergiliran ngasih angpao ke Habib dan Dayyan.
“Mi, uangku dikasih tempat gitu lho biar nggak kececer..!” pinta Habib
“Iya, Mi, uangku juga!” sahut Dayyan
Akhirnya istri merelakan dua toples plastik tempat krupuk sebagai wadah angpao yang mereka terima. Karena banyak tetangga yang tahu dan ngasih angpao – maka kami memutuskan untuk sekedar tasyakuran dengan mengantar makanan ke rumah-rumah tetangga.
“Bib… uangmu aku hitungkan ya… sambil aku rapikan..” kata Nadia. Beberapa saat kemudian Nadia berkata.
“Jumlahnya seratus lima puluh empat ribu rupiah.. Ini uang yang lima puluh ribuannya satu, sepuluh ribuannya lima…. Limaribuannya delapan.. seribuannya empat belas… sudah tak pisah-pisah Bib..” lapor Nadia.
“Punyamu juga dihitungkan juga tah Yan?..” Tanya Nadia pada Dayyan.
“Iya Mbak ditata juga kayak punya HabibYan?..” Dayyan mengiyakan.
“Asyiiikk Banyak ya Mbak… aku ambil yang seribuan.. tak beli kue di tante Endang..” seru Habib yang beberapa saat kemudian dengan sarung yang amburadul seudah melesat ke warung tetangga.
“Habib..itu njajan terus ya Bi… uangnya nggak ditabung… ” kata Dayyan.
*****
“Ria kamu besok kan berangkat rekreasi… Ini aku kasih sangu … ” kata istri saya pada Ria anak Mbak Kemi tukang cuci kami. Ria juga teman Habib di sekolah.
“Iya, Ri.. ini tak kasih sangu juga.. aku nggak ikut masih belum sembuh … ” kata Habib sambil memberikan selembar uang seribuan pada Ria.
“Duh… Habib.. ngasih kok Cuma seribu… ya, kurang Bib…” seru istri saya
“Nggak … aku khan masih pengin jajan… nanti aku gak kebagian” jawabnya sambil menyingkir pergi.
Dengan dapat angpao, Habib merasakan kebebasan finansial .. dia merasa kaya – terbukti dengan beberapa kali ke warung tetangga untuk beli kue. Tidak itu saja, kalo ada tukang kue atau es yang lewat depan rumah dan dia pengin … maka dipanggilnya dan dia beli
Beda dengan Dayyan, dia tidak begitu selera untuk menghabiskan uangnya. Bahkan karena Dayyan nggak pernah jajan.. Habib membelikan jajan untuk Dayyan dan Nadia dengan uangnya.
****
“Bi Aku ikut ke masjid” kata Habib suatu Magrib
“Duh Bib.. nanti aja to sayang kalo sudah sembuh benar..”
“aku pengin nabung di surga Bi…. Masak nggak boleh..” jawab Habib sambil menunjukkan sekeping uang lima ratusan yang hendak dimasukkan ke kotak amal di masjid
“Ya… deh… ayo… masukin sendiri nanti ya….”
***
“Mi..uangku semuanya.. aku kasihkan Umi saja.. buat beli rumah.” kata Dayyan suatu Malam
“Bener nih Bang?.”
“Iya… nggak papa khan?.” tanya Dayyan
“Ya nggak papa, tapi kalo Dayyan butuh bilang aja nanti umi kasih…” jawab istri
“Mi… anak yang ngasih uangnya ke orang tua itu masuk surga ya…” tanya Dayyan
“Iya sayang, tapi juga harus tetep rajin sholat, ngaji dan belajar…..” jawab istri
****













salut saya. kecil-kecil tapi pemikirannya dah jauh ke depan. tidak semua anak berpikiran sepeti mereka. semoga menjadi anak yang soleh dan kebanggan orang tua
Qta memang gak pernah tahu apa yang ada di pikiran anak2 Qta…
Jadi kalau kita salah mengarahkan mungkin anak2 kita jadi salah menilai…!!!!
bagi angpao nya doong bwat beli ice creamm……
dayyan n habib tolong tanyain abi ya?? boleh sunat dua kali ga, biar angpaonya tambah banyak hehe….
semoga menjadi anak yang sholeh ya om……om klo boleh,bagi2 dunk ilmu nya menjadi seorang blogger yang handal…^_^…..
salam mercu….
wah… bisa buat referensi mendidik anak ini nanti pak
apa kabar boss…postingmu yang ini mengingatkan aku pada masa kecil dulu..
-salam- ^_^
hetrikkk…
ditunggu Kang lanjutannya
ternyata memang sudah membudaya ya., dulu saja ketika saya di khitan maunya gak bilang2… tapi… namanya orang tinggal di desa… semua menyerbuuuuuuu… entah yang datang tak diundang maupun yang pulang tak diantar…
semua ngasih angpao, jadi merasa seperti habib yang merasakan kebebasan finansial…
Subhanallah.., apik sekali ceritanya Kang, saya jadi tertawa kecil bacanya… berapa sih harga rumah?